oleh

OMON-OMON ( Ketika Hukum Jadi Pedang Rejim Dzolim ) 

Oleh : Muhammad Chirzin 

TributeAsia.com, Yogyakarta-

Mahkamah Konstitusi yang memulai 

Mahkamah Konstitusi yang mengakhiri.

“Mahkamah Konstitusi adalah Lembaga politik yang disamarkan ke dalam jubah hukum, agar terlihat menyerupai lembaga hukum. Oleh karena itu tak perlu kaget atau heran bila Mahkamah Konstitusi berakrobat politik.” (Dr. Mulyadi, Akademisi Ilmu Politik)

“Ketua MK mengutip ayat kitab suci, sementara keputusannya tidak adil: memenangkan Gibran kemenakannya sendiri. Saya pun ingat kalimat Shakespeare dalam “Saudagar Venezia”:

”Iblis dapat mengutip Kitab Suci untuk tujuannya sendiri. Seperti penjahat dengan wajah tersenyum…”. ak berarti kalimat itu ditujukan untuk Anwar Usman. Saya kira Shakespeare tak kenal dia.” 

(Goenawan Mohamad @gm_gm) 

“Sekuat apa pun jihad konstitusi hasilnya akan hambar, ketika berhadapan dengan oligarki kekuasaan, dan politik yang kering kesadaran cita-cita luhur bangsa.” 

(Haedar Nashir) 

“Kemungkaran struktural sangat berbahaya, karena daya rusaknya luar biasa terhadap kehidupan bersama. Selain meruntuhkan kedaulatan rakyat, juga potensial meruntuhkan negara bangsa.”. (Din Syamsuddin) 

“Tidak ada kemuliaan pada mereka yang munafik. Berapi-api teriak perubahan, tapi kemudian menjual diri ketika ditawari kekuasaan.” (Rocky Gerung)

“Kita menghukum maling-maling kecil, dan menunjuk maling-maling besar untuk bekerja di pemerintahan.” 

(Aesopus, Penyair Yunani)

“Berhenti tak ada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Siapa bergerak dialah yang maju ke depan. Siapa berhenti sejenak sekalipun pasti tergilas.”. (Mohammad Iqbal)

“Kesadaran adalah matahari.

Kesabaran adalah bumi.

Keberanian menjadi cakrawala.

Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”. (WS Rendra)

“Mudah-mudahan ujung pena masih lebih tajam daripada ujung pedang.” 

(Ebiet G. Ade) 

Kesalahan tak akan berubah menjadi kebenaran karena perjalanan waktu. 

Maju tak gentar membela yang benar !.(TP)