oleh

HIDUP TEGAR

Iklan Travel

Oleh: Ustadz Soetrisno Hadi

Cobaan dan ujian silih berganti, perlu ketabahan dan iman Istiqomah

IKLAN-TA-CALEG

Dalam hidup di era kekinian dewasa ini, ada hal yang penting dan amat dibutuhkan yaitu ketegaran. Tegar dalam banyak aspek, tegar jasmani, rohani, mental spiritual, iman dan amal saleh. Mengapa, karena begitu banyak cobaan, ujian, serta fitnah dialami kita.

Ketegaran itu begitu penting, bila tidak, pasti akan berpengaruh pada diri, keluarga, masyarakat bahkan bangsa dan negara.

Selain Nabi Muhammad,saw, Anda masih ingat Nabi Ayyub,as (1540-1420 SM).
Diutus untuk bangsa Arami dan Amori di Hauran, sekitar Damaskus, Syria. Nabi Ayyub,as terkenal karena ketegaran dan kesabarannya dalam menerima cobaan dari Allah,swt. Ditimpa penyakit selama 19 tahun – ada juga yang menyebutnya 21 tahun – dalam doanya pada Allah,swt, “Ya Rabb, sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Rabb Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.
Maka, Kami kabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakitnya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya” (QS.al-Anbiya,21: 83-84).

Dalam hadits yang sahih, yang dikutip Dr.Sami bin Abdullah al-Maghluts, sabda Rasulullah,saw, “Manusia yang paling dahsyat ujiannya ialah para nabi, kemudian orang-orang saleh, para ulama, dan seterusnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya. Tetapi hal itu semakin menambah ketegaran, dan kesabarannya. Kebahagiaan dan pujian serta rasa syukurnya pada Allah,swt.

Prof.Dr.Ali ash-Shabuni, guru besar tafsir al-Qur’an,Uni- versitas Umm al-Qura, Mekah al-Mukaramah, mengatakan bahwa Nabi Ayyub,as diutus untuk bangsa Romawi di Syam. Kata Syaikh Mahmud Syakir, nabi Ayyub tinggal di Hauran, utara Syria. Penduduk Arami mengikuti agama Ibrahim,as yang telah dimodifikadi oleh mereka. Karena itu, untuk meluruskan kembali mereka. Allah,swt mengutus Nabi Ayyub,as.

Informasi itu diperkuat oleh Syaikh Nawawi al-Bantani, rhm dalam ‘ Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq az-Zawjayn. Allah,swt menguji nabi Ayyub,as dengan sejumlah ujian terhadap harta, anak, dan keluarganya bahkan badannya dengan penyakit yang berat. Tetapi Allah,swt menyelamatkan beliau dengan memelihara hati, lisan, dan aqalnya.

Hatinya tetap tegar meski ditempa ujian bertubi-tubi, lisannya tetap melantunkan dzikr, pujian, dan tasbih pada Allah,swt. Dan akalnya, tetap berfungsi efektif dengan mengembalikan semua ujian itu pada Allah,swt sebagai wujud cinta-Nya.

Dalam konteks kekinian, banyak kesibukan kita sehari-hari. Semua itu potensial bisa mengalihkan perhatian dan pengabdian kita pada Allah,swt. Karenanya, menjaga hati, lisan dan akal seperti dialami Nabi Ayyub,as menjadi amat urgent dan mendesak.

Apalagi, kini kita akan menghadapi bulan Ramadhan yang penuh hikmah, rahmat, dan ampunan. Ini semua kita lakukan untuk menyelamatkan kita, keluarga, dan masyarakat bangsa negara dari kerusakan dan kehancuran. Dengat dengan Allah,swt adalah kata kunci dari semua problematika itu. Selamat mendekat pada Allah,swt. Dia,swt pasti lebih dekat lagi pada kita.#

Iklan HUT RI Ponpes Al-Khafilah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.