oleh

HIDUP PROGRESIF

Iklan Travel

Sebagai seorang Muslim, tentu saja kita ingin agar hidup ini progresif, maju, berkembang dan bermartabat di tengah era informasi. Tetapi tetap tidak meninggalkan asas dan watak asli kita sebagai seorang Muslim dan Mukmin yang baik.

Pendeknya, menjadi mereka dalam kategori pertama yaitu mukmin dan muslim yang kuat dan progresif.Sejumlah teks dari sumber autoritatif yang kita kenal yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah mengisyaratkan bahwa hidup progresif itu bila kita punya seperangkat pegangan.

IKLAN-TA-CALEG

_Kesatu_ , hidup kompetitif. Hidup dalam persaingan yang keras ini perlu pegangan yang kuat yaitu QS.al-Baqarah,2:148. Isinya, perintah agar kita berkompetisi dengan semua orang dalam kebaikan.

Mereka semua adalah _competitor_ kita.Kalau orang lain bisa maju dan sukses, mengapa kita tidak. Sama-sama anak manusia, anak cucu Adam.Menurut Prof.Wahbah az-Zuhayli, ayat itu mengisyaratkan bahwa _qiblat_ itu bukan asas agama, tetapi yang terpenting adalah berkompetisi dalam kebaikan (Lihat : Prof.Dr. Wahbah az-Zuhayli, _At-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa ash-Shari’ah wa al-Manhaj_ , Juz.II,1999M -1411H,29-33).

_Kedua_ , segera, cekatan, cermat dan teliti dalam meraih sukses. Rujukan autoritatif langkah ini ialah QS.Ali Imran,3:133. Orientasi ayat ini pada keberhasilan hidup dalam meraih ampunan Allah,swt dan surga-Nya.

Orang bisa bersikap seperti ini bila bertaqwa. Secara normatif, kita bisa melakukan ini karena telah melewati tempaan Ramadhan.

_Ketiga_ , hidup sungguh-sungguh dan produktif. Setiap langkah yang kita lakukan didedikasi kan sepenuhnya untuk Allah,swt (QS.al-Ankabut, 29:69).Dalam literasi, sikap ini dikenal sebagai hidup dengan ber- _mujahadah_ . Gaya hidup ini, pasti mengundang atensi lebih dari Allah,swt dengan memberi kita sejumlah kemudahan (HR.Bukhari).

_Keempat_ , hidup dengan orientasi manfaat. Banyak memohon bantuan dan pertolongan Allah,swt. Tidak lemah, tetapi tetap tegar dan perkasa, serta tidak suka berandai-andai (HR.Muslim).

_Kelima_ , hidup cerdas _al-kayyisu_ yaitu mampu mengendalikan hawa nafsu dan suka beramal untuk kebahagiaan hidup setelah kematian nanti (HR.Tirmidzi, dalam Imam Nawawi, _Riyadh_ _ash-Shalihin_ ). Semoga Allah,swt menyelamatkan kita dengan tawfiq, hidayah, dan inayah-Nya. _Wa Allah al-Musta’an wa la hawla wa la quwwata illa bi Allah, al-‘Aliy al-‘Azhim”._

Iklan HUT RI Ponpes Al-Khafilah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.