oleh

Hancurnya harga diri MBD dan Saudi

Iklan Asia Mas Tour and Travel

Di susun oleh Habib Husain Alhabsyi

Muhammad bin Salman akan disambut hari-hari buruk pascalengsernya Donald Trump.
DAWN didirikan untuk mendukung pemikiran-pemikiran Jamal Khashoggi dan bermarkas di New York. Whitson mencuit, ”Ada seseorang (Bin Salman) yang telah melalui hari buruk. Sama sekali tidak bagus, sebab ia tidak bisa mendapat kekebalan yang ia minta dari Trump dan yang berusaha ia lakukan. Orang (Trump) yang berisik ini hari ini dan besok akan mengirim teman-teman berandalnya ke tempat sampah.”
“Tuan, Bin Salman, saya akan bertemu Anda di pengadilan,” imbuh Whitson.
Sebelum ini, media-media AS memberitakan bahwa Pemerintahan Trump tengah mengkaji pemberian kekebalan hukum kepada Putra Mahkota Saudi.
Menurut New York Times, Bin Salman dan Trump berusaha menggagalkan upaya untuk menyeret Putra Mahkota Saudi ke pengadilan terkait kasus teror Khashoggi.
Situs SaudiLeaks menulis, Bin Salman baru-baru ini memberikan sogokan besar kepada para pejabat Pemerintahan Trump, termasuk menantu Trump, Jared Kushner dan Menlu Mike Pompeo, agar ia bisa mendapatkan kekebalan hukum di AS.
Direktur Badan Intelijen Nasional AS, Avril Haines menyatakan, Pemerintah Joe Biden berencana mencabut status rahasia dari laporan intelijen terkait pembunuhan Khashoggi.
Harian Guardian menilai, keputusan ini berarti bahwa tampaknya AS berniat untuk secara resmi mendeklarasikan Bin Salman sebagai pihak yang bersalah dalam pembunuhan keji Khashoggi.
Seperti diketahui, Khashoggi tinggal di AS dan bekerja di Washington Post. Dia menulis kritik-kritik terhadap Putra Mahkota Saudi. Pada Oktober 2018 lalu, ia dibunuh secara keji di Konsulat Saudi di Istanbul.
Meski sejumlah media melaporkan bahwa komunitas intelijen AS meyakini bahwa instruksi pembunuhan berasal dari Bin Salman, namun sejauh ini mereka belum secara resmi merilis pernyataan terkait hal ini
 Seorang penulis dan dosen Palestina, Abdussattar Qasim, dalam artikelnya di harian transregional Rai al-Youm mengkritik Rezim Al Saud lantaran ketundukannya di hadapan AS.
Di awal artikel berjudul “Saudi Sebuah Negara atau Kawasan yang Dijaga AS?” itu, Qasim menyinggung ancaman Washington kepada Riyadh. Donald Trump mengancam akan menarik pasukan AS dari Saudi jika Riyadh tidak berusaha memperbaiki harga minyak di pasar dunia.
“Trump sudah berkali-kali mengungkit dukungan AS untuk Saudi. Seorang senator AS juga pernah berkata, andai bukan karena dukungan AS, Saudi sekarang sudah berbicara dengan Bahasa Persia. Maksudnya, Iran sudah menyerang Saudi (dan mendudukinya),” tulis Qasim.
Menurutnya, kendati hal ini sudah sering dikoarkan oleh AS, namun tak satu pun petinggi Saudi yang marah, atau menjawab, atau membantah, atau memberi klarifikasi.
“Mereka semua hanya bungkam hingga sekarang. Diam adalah tanda pembenaran atas apa yang diucapkan AS. Diam adalah bukti kehinaan dan tiadanya tekad untuk menjaga martabat,” lanjut Qasim.
Trump, tulis Qasim, memang tidak menyebut siapa musuh yang mengintai Saudi. Tapi orang-orang di dunia menyimpulkan bahwa yang dimaksud Trump adalah Iran.
Qasim lalu mengutarakan pertanyaan: apakah Iran memang benar berniat menduduki Semenanjung Arab? Jika benar, apakah ada buktinya?
Menurut Qasim, meski Iran mungkin saja “tertarik” untuk menggulingkan Rezim Saudi, tapi ia menegaskan bahwa ia tak pernah melihat Teheran memobilisasi pasukan untuk menyerang Semenanjung Arab dan melengserkan Klan Saud dengan kekerasan.
Ia menegaskan, Iran berhak memperkuat sistem pertahanannya dan tak boleh ada yang menghalanginya. Namun, industri militer dan pengembangan teknologi nuklir Iran tak berarti bahwa Teheran berniat menyerang Saudi atau lembaga politik lain di Kawasan.
Qasim mengungkap keraguannya soal penyebutan Saudi sebagai “negara.” Sebab sebuah negara tidak semestinya hanya diam dan tak bereaksi saat diremehkan oleh pihak lain.
“Dengan ini bisa disimpulkan bahwa Saudi tak lain hanyalah sebuah kawasan yang dilindungi AS dan mematuhi seluruh instruksinya. Barangkali ini yang menyebabkan Rezim Saudi berlepas diri dari semua eksekusi atas para penentangnya, sebab mereka berpikir bahwa AS bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang dilakukan Riyadh,” tulis Qasim.
“Adakah penguasa di Arab yang benar-benar tahu posisinya di mata Trump? Dalam sejarah, daerah yang dilindungi pihak lain tak disebut sebagai ‘negara.’ Sebab, ia tak memiliki kemerdekaan dan tak bisa mengambil keputusan. Keputusan hanya bisa ditentukan oleh pihak pelindung dan tak ada kuasa yang melebihinya,” pungkas Qasim.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *