oleh

Tuah dan Keramatnya Umat Muhammad, Pada Al-Qur’an dan Para Pengamalnya

Iklan Asia Mas Tour and Travel

Saya sengaja tidak memberi judul: tuah dan keramatnya umat Muhammad terletak pada para penghapal Al-Qur’an. Walaupun sebenarnya, judul itu sewajarnya bermakna demikian.

Tapi sekarang, agak beda. Dulu di zaman Nabi, realitas para penghapal Al-Qur’an merupakan komponen inti dan elit dari susunan masyarakat awal Islam. Karena kepada merekalah, semua masalah keummatan yang timbul, dipulangkan, dirujuk, dan diminta solusinya. Maklum mereka merupakan sahabat-sahabat lingkaran dekat Nabi Muhammad SAW. Kelas mereka seperti derajat Abu Bakar Ashsiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan seterusnya. Mereka adalah role model, pusat perhatian dan sumber rujukan umat Muhammad yang tiap tahun pertambahan populasinya meningkat tajam, baik dari bangsa Arab maupun Ajam atau Non Arab. Baik karena penaklukan wilayah maupun tren zaman masuk Islam yang begitu pesat. Maklum, Islam waktu itu berada pada posisi hit. Tentu di pundak merekalah segala urusan zaman dirujukkan. Muhammad SAW bersabda terkait keadaan para sahabat inti tersebut.

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari).

Berlainan dengan zaman kita sekarang. Sekarang inti dan elit masyarakat ditentukan oleh luas dan besarnya kepemilikan harta, akses ekonomi dan politik, dan jabatan duniawi. Hal itu wajar, karena sifat dan corak masyarakat zaman sekarang, juga berbeda dengan zaman Nabi dan sahabat. Ukuran harga, tolak ukur dan tujuan umumnya pun berbeda.

Dulu mereka mengikuti standard Nabi, bahwa yang utama adalah hidup yang selamat setelah hidup di dunia. Sekarang standardnya ialah hidup berlimpah materi yang utama, sedangkan hidup setelah mati, sebetulnya dianggap lelucon dan tak ada sama sekali. Maka para pemilik kekayaan menduduki tangga teratas dari susunan masyarakat.

Walaupun empirical base, mata dan hati mereka tak bisa menyangkal bahwa kematian itu sangat misterius, ngeri dan apa selanjutnya setelah kematian itu, tidak bisa mereka jawab. Sementara wahyu Al-Qur’an menjawabnya dengan tuntas. Mereka hanya seperti orang pasrah saja berurusan dengan misteri kematian itu. Padahal dalam urusan keduniaan, tak satu pertanyaan pun mereka lewatkan untuk dijawab. Inilah inkonsistensinya manusia zaman sekarang, produk pendidikan yang meminggirkan Al-Qur’an dan mengikuti dikte ala pendidikan Barat.

Tuah dan Keramatnya Umat

Jadi, dahulu disadari bahwa tuah dan keramatnya umat Muhammad itu ialah terdapat pada para penghapal Al-Qur’an. Mengapa para penghapal Al-Qur’an ini sangat istimewa di masa itu? Hal ini harus kita ingat konteks zaman, hal mana tradisi memelihara dan mentransmisikan ilmu dan informasi belum banyak menerapkan tradisi tulisan. Tetapi lebih menonjol tradisi hapalan, lisan dan ingatan. Jangankan masyarakat Arab sebagai komponen awal susunan masyarakat Islam dikenal sebagai masyarakat ummy (buta baca tulis), Nabi Muhammad SAW sendiri dikenal sebagai ummy. Oleh karena itu, cara para sahabat dan pengikut Muhammad SAW dalam merekam ilmu, pelajaran, kebijaksanaan dan informasi dari Rasulullah SAW, mengandalkan ingatan dan hapalan. Tetapi implikasinya, aktivitas memorizing sangat berkembang dan menakjubkan waktu itu dibandingkan zaman sekarang. Mereka dapat menghapal seluruh isi Al-Qur’an dan meriwayatkan ribuan hadits. Karena memang hal itu merupakan aktivitas yang lumrah saja bagi generasi tersebut.

Walhasil, seorang yang banyak menghapal Al-Qur’an sudah barang tentu seorang yang lebih banyak memiliki kandungan informasi wahyu dan ajaran Rasulullah terkait makna ayat-ayat tersebut. Oleh sebab, para sahabat semacam itu, tinggi kedudukannya karena dibutuhkan oleh umat yang berbondong-bondong masuk Islam guna sebagai pengajar dan pembimbing umat.

Milestone peranan penghapal Al-Qur’an ini makin terasa genting disadari, manakala terjadi Perang Yamamah, perang melawan para pembangkang zakat dan kaum murtad di masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, hal mana akibat perang tersebut gugurlah 70 orang sahabat para penghapal Al-Qur’an. Milestone ini kemudian membawa ide urgensi dikodifikasikannya Al-Qur’an guna mengantisipasi akibat lebih banyak lagi umat kehilangan para penghapal Al-Qur’an.

Satu lagi karakteristik para sahabat Nabi yang menghapal ayat-ayat Al-Qur’an tersebut sebagaimana digambarkan oleh hadits berikut. Mereka para sahabat itu, setiap kali menghapal 10 ayat, maka 10 ayat itu mereka ketahui dari Nabi kandungannya, penjelasannya, dan setelah itu mereka betul-betul praktikkan ayat itu jika memang ayat yang menuntut praktik. Hadits Nabi berikut menjelaskan hal itu.

عن أبي عبد الرحمن قال: حدثنا من كان يقرئنا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، أنهم كانوا يقترئون من رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر آيات، فلا يأخذون في العشر الأخرى حتى يعلموا ما في هذه من العلم والعمل، قالوا: فعلمنا العلم والعمل (رواه أحمد فى مسنده)

Abu Abdurrahman as-Sulami (seorang tabi’iy) berkata, “Para sahabat Nabi yang mengajarkan Al-Qur’an pada kami mengatakan bahwa mereka menerima (belajar) Al-Qur’an dari Rasulullah SAW sepuluh-sepuluh ayat. Mereka belum akan menerima sepuluh berikutnya sampai mereka tahu apa saja yang mesti diketahui dan diamalkan dalam sepuluh ayat tadi. Mereka mengatakan, “Dengan demikian kami tahu ilmu dan amalnya sekaligus.” 

Ini dikuatkan penjelasan langsung dari Ibnu Mas’ud RA:

عن ابن مسعود قال: كان الرجلُ منا إذا تعلَّم عشرَ آياتٍ لم يجاوزهن حتى يعرف معانيَهُن والعمل بهن (رواه الطبري فى تفسيره)

“Kami belajar sepuluh-sepuluh ayat dan belum akan berpindah pada ayat berikutnya sampai kami mengerti makna yang terkandung dalam sepuluh ayat itu dan bagaimana mengamalkannya.”

Jadi bisa dibayangkan, jika dalam Al-Qur’an terdapat 6000 – an ayat lebih, maka para sahabat itu telah mengetahui perbendaharaan ilmu wahyu Allah sebanyak 6000-an dan mengamalkan juga mengajarkan sebanyak itu. Setidaknya mereka menerapkannya 6000-an ayat itu dalam kehidupan mereka.

Abu Umar dalam kitab Al-Tidzkar fi Afdhal Adzkar Al-Qur’an al-Karim menyatakan:

“Orang yang hapal Al-Qur’an ialah orang-orang yang mengetahui hukum-hukumnya, halal-haramnya, dan mengamalkan isi kandungannya.”

Itulah sebabnya, tuah dan keramat umat tersebut terdapat pada para penghapal Al-Qur’an, asalkan semisal para sahabat tersebut. Para sahabat itu, merupakan penjaga dan pemelihara firman Allah. Tentulah sebagai penjaga firman Allah, Allah juga akan memperhatikan kedudukan mereka.

إ ِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. ” (QS. Al-Hijr: 9).

Aktivitas memelihara otentisitas Al-Qur’an dari penyelewengan teks, tentu suatu yang sangat berharga demi menjaga kemuliaan dan kemurnian agama Islam. Aktivitas menghapal Al-Qur’an yang berlangsung sejak generasi pertama umat Muhammad hingga dewasa ini, telah menyumbangkan hal yang berharga agar Islam tidak dimanipulasi dari sumbernya. Akibatnya, kewibawaan Islam di hadapan zaman dan sains tentu tinggi sekali. Aspek ini merupakan salah satu hasil dari pekerjaan para penghapal Al-Qur’an dari zaman ke zaman.

Oleh sebab itu, karena pekerjaan para penghapal Al-Qur’an berkaitan dengan menjaga firman Allah, menjaga mata rantai wahyu agar tersampaikan kepada umat manusia, nilai pekerjaan mereka tidak semestinya ditukar dengan dunia. Sebab hal itu dapat merendahkan nilai tukar mereka. Kalau hal itu tetap terjadi di lapangan, tentu suatu hal yang sangat disayangkan.

Karena nilai tukar mereka hanya berada dalam otoritas Allah sebagai penurun wahyu kepada Muhammad, maka pahala dan ganjaran yang melampaui neraca dunia materillah yang pantas bagi mereka. Tetapi karena para penghapal Al-Qur’an saat ini berada dalam sistem kekuasaan yang tidak kondusif terhadap kedudukan para penghapal Al-Qur’an, maka sedapat mungkin jangan menjatuhkan nilai wahyu yang dihapal itu di hadapan manusia dan Sang Pemilik Wahyu. Allah memperingatkan jangan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Maksud harga yang sedikit ini, bukanlah angka digit rupiah, riyal atau dollar. Maksud dari istilah harga yang sedikit itu ialah dunia.

وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (QS. Al Baqarah: 41)

Allah juga berfirman,

فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. al-Maidah: 44)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan,

معناه لا تعتاضوا عن البيان والإيضاح ونشر العلم النافع في الناس بالكتمان واللبس لتستمروا على رياستكم في الدنيا القليلة الحقيرة الزائلة عن قريب

Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Dan makna [ثَمَناً قَلِيلاً] “harga yang rendah” adalah dunia seisinya.

Harun bin Zaid menceritakan,

سئل الحسن ، يعني البصري ، عن قوله تعالى : ( ثمنا قليلا ) قال : الثمن القليل الدنيا بحذافيرها

Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang firman Allah, [ثَمَناً قَلِيلاً] “harga yang rendah”. Kata beliau, “Harga yang rendah adalah dunia seisinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/243).

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR. Muslim No.2868).

Dalam hadits lain disebutkan;

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمِثْلِ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَا يَرْجِعُ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ

“Perumpamaan antara dunia dengan akhirat ibarat seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat apa yang menempel padanya. Lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya”. (HR. Ahmad)

~ Syahrul Efendi Dasopang, Sekjen Ikatan Sarjana Al-Qur’an Indonesia (ISQI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *