oleh

Didemo Yunior, Anies Hanya Tersenyum

Iklan Asia Mas Tour and Travel

Oleh: Mang Udin

Ups! Demo lagi. Kali ini, Balaikota DKI digerudug anak-anak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO. Ketua Umum DKI yang memimpinnya langsung. Pakai bahasanya “digerudug”. Biar terkesan agak heboh. Ikut bahasa media-media lain. Padahal, gak ada yang heboh.

Bukannya itu yunior Anies? Iya. Kenapa yunior demo seniornya? Emang gak boleh? Ini bagian dari proses demokrasi yang wajar. Gak yunior, gak lawan politik, semua boleh demo. Ini pertanda, demokrasi hidup dan terjaga dengan baik di Jakarta.

Tapi, isunya sensitif: minta KPK tangkap Anies. Namanya juga isu. Yang penting kan fakta. Kalau isu, setiap orang bisa buat. Siapa saja bisa produksi isu setiap hari. Berapa banyak butuh isu?

Negara ini bukan negara isu. Tapi, kita hidup di alam nyata. Jadi, lihat fakta, jangan dengerin isu. Orang waras acuannya fakta, bukan sibuk dan dibikin bingung oleh isu. Lu bisa stres.

Biasanya, kalau yunior protes ke senior, pasti ada alasannya. Yang pasti, bukan alasan moral, integritas atau kapasitas. Soal ini, Anies sangat diakui.

Apa kira-kira alasan mereka protes? Mungkin karena kurang komunikasi. Kurang perhatian. Begitulah kira-kira. Gubernur sibuk kerja, sambil cari waktu kosong untuk menemui yuniornya. Mungkin yunior gak sabar, lalu demo. Ah, hal begini kan biasa terjadi. Apalagi kalau ada yang ngipas-ngipasin. Jadi itu barang.

Demo bisa menjadi cara efektif bagi seseorang, atau sekelompok orang untuk menagih perhatian. Setiap orang punya cara masing-masing supaya diperhatikan.

Habis demo, diundang, lalu ngopi bareng, rasa kangen yunior ke senior terakomodir, selesai. Demo berhenti. Hanya itu aja. Jadi, jangan dianggap heboh. Media aja yang terlalu sensitif.

Relasi yunior-senior itu terjaga sepanjang ada komunikasi, silaturahmi, dan perhatian senior ke yunior. Sesimpel itukah? Iya! Gak ada penjelasan lain. Ah, kayak gak pernah jadi aktifis aja.

Kalau anda punya adik, gak bisa ketemu anda. Protes! Ngedumel dan gosip kemana-kemana. Bicara ke temen, bicara ke tetangga. Punya kakak seperti gak punya,, katanya. Gak ada efek dan manfaatnya. Di denger oleh pihak ketiga yang gak suka, ya dikomporin. Digosok-gosok. Makin jadilah itu marahnya Sang Adik.

Ketika ditemui, diajak komunikasi, dan diperhatikan keluhannya, kelar! Apalagi kalau senior-senior lain kasih teguran: kalian pakai demo-demo segala. Yang ditegur paling cuma senyum. Sambil sedikit meringis berkata: “sesekali bang, biar ada perhatian”.

Kakak beradik itu biasanya punya hubungan emosi tersendiri. Tak mudah bagi pihak ketiga menggoda ketika keduanya sudah berjumpa.

Tangsel, 7/4/2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *