oleh

MENDAYUNG DIANTARA DUA KARANG

Iklan Asia Mas Tour and Travel

 

Diantara dua karang artinya diantara dua negara Super Power sebagai kekuatan global.

Terlihat tarik menarik kekuatan global pada Indonesia. Ada firasat kalau kedua negara Super Power ingin menyeret Indonesia kedalam konflik. Padahal kedua negara tidak punya andil dalam kemerdekaan Indonesia.

Disinilah pentingnya nilai-nilai ke Indonesiaan. Membuat bangsa Indonesia sebagai bangsa besar, tangguh dan bermartabat.

*Saling kunjungan*
Beberapa waktu yang lalu, Menteri Pertahanan China Wei Fenghe beserta rombongan bertemu dengan Prabowo Subiyanto (PS) Menhankam Indonesia (08/09/20). Mereka meminta China diizinkan membangun pangkalan militer di Indonesia. Tetapi Menhankam PS menolak dengan alasan Indonesia punya politik luar negeri yang bebas aktif. Itulah nilai-nilai ke Indonesiaan warisan para pendiri bangsa.
Disinilah PS menunjukkan bahwa dia mengerti sejarah Indonesia dan faham betul filosofis ke Indonesiaan dan nasionalisme Indonesia. Sejarah tentang pemikiran para pendiri bangsa yang menghendaki Indonesia bebas aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia. Bukan terseret pada kekuatan kekuatan global yang saling bersaing dan beseteru. Nasionalisme Indonesia mesti menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa lemah yang bisa ditekan dan diseret kemana saja. Tapi nasionalisme Indonesia punya jatidiri dan harga diri sebagai bangsa yang bermarbat. Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari negara lain, tapi hasil perjuangan dan pengorbanan rakyat Indonesia Itulah nilai-nilai ke Indonesiaan yang mesti dipelihara oleh para Pemimpin bangsa. Membuat bangsa Indonesia besar dan disegani bangsa lain.

Kembali ke sikap menham PS tersebut sudah tentu membuat menham China bingung dan kecewa. Diluar dugaan, karena mereka merasa sudah begitu welcome dengan Presiden Jokowi. Tapi kenapa Menhamnya seolah tidak tidak cooperatif. Bukankah Presiden Jokowi selama ini sudah begitu pasrah kerja sama ekonomi dan investasi dengan China dengan syarat dan kondisi yang sangat favorable dan menguntungkan sekali China tanpa jelas keuntungannya bagi Indonesia. Timbul pertanyaan, apakah menham PS tidak bisa tunduk pada Presiden Jokowi??. Itu bukan letak masalahnya. Karena PS lebih mengerti filosofis jalan dan visi kenegaraan yang dibentangkan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam Pembukaan UUD 1945. Inilah fakta tentang rezim Jokowi saat ini. Mungkin China merasakan ada matahari kembar.
Secara ekonomi China dapat memanfaatkan Indonesia. Tapi secara militer dan pertahanan
China mesti realistis dan gigit jari. Tapi tentu PKC (Partai Komunis China) tahu apa yang mesti dilakukan menghadapai kebijakan matahari kembar dalam rezim Pemerintahan Jokowi.

Sebelumnya sekitar September 2019, Presiden Jokowi bersama PDIP membuka diri dan show tentang keakraban hubungan dengan PKC. Di Istanah Bogor Presiden Jokowi menerima kunjungan Song Tao hubungan Luar negeri Presiden RRC sekaligus Kepala Polit Biro hubungan international PKC. Setelah itu Megawati Ketua Umum PDIP mengajak makan siang. Betapa akrab dan mesra hubungan ditunjukkan. Menurut Sekjend PDIP Hasto Kritiyanto pertemuan itu dalam rangka mempererat hubungan antara PDIP dan PKC. Sebelumnya ada perteman delegasi PKC yang dipimpin perwakilan Politbiro Li Yuan Cho bertemu dengan Megawati bersama Pengurus PDIP lainnya. PDIP bertukar pikiran dengan PKC soal gagasan dan pengkaderan. Semua itu menjadi bukti bahwa Indonesia dibawah Kepemimpinan Presiden Jokowi dan PDIP sudah sangat didekatkan pada haluan Internasional ke kiri (China Komunis).

Lalu muncul hal baru yang tentu lebih mengejudkan bagi menham China.Baru baru ini diberitakan PS Menham Indonesia berkunjung ke Amerika untuk bertemu dengan Menham Amerika Mark T Esper (15 -19 oktober). Pembicaraanya adalah memperdalam pengertian kerjasama pertahanan dan militer. Amerika sekarang ini sangat butuh kemitraan Indonesia ditengah ancaman konflik di Laut China Selatan (LCS). Sedangkan Indonesia butuh Amerika untuk modernisasi peralatan perang.
Menhankan Amerika juga nenekankan petingnya penegakan Ham dan hukum. Dimana di era Pemerintahan Jokowi, Indonesia dinilai punya record penegakan Ham yang rendah. Ini suatu warning.
Sekalipun kunjungan PS ke Amerika dikritik oleh para pegiat Ham. Tetapi suatu ironi, kenapa mereka diam ketika rezim Jokowi kurang peduli pada pelanggaran Ham dan berusaha menunjukkan gaya Pemerintahan otoriterian.

*Ketergantungan pada Amerika*
Lanjut pada kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Amerika di zaman Orba sangat baik. Bahkan banyak jenderal Indonesia pernah diberi kesempatan kuliah di Akadami military Amerika yaitu West Point. SBY salah satu diantaranya dan banyak lagi lainnya. Jadi ada sejarah panjang yang memudahkan jalan bagi peningkatan kerjasama militer dan Keamanan dengan Amerika.

Tetapi dari dulu sejak zaman Orba, kerjasama pertahanan Indonesia dan Amerika bukan membuat Indonesia mampu mandiri secara peralatan militer canggih, tetapi Indonesia tetap dibuat bergantung pada Amerika. Beda kerjasama pertahanan Iran dan Rusia para tekhinisi ( tenaga ahli) militer Rusia langsung terjun ke Iran membantu proyek proyek militer dan pertahanan Iran. Kini Iran mampu memproduksi rudal jelajah dan rudal balastik. Kemampuan Iran memproduksi rudal canggih sudah selevel dengan negara industri maju. Kemajuan industri militer Iran Iran dianggap Barat sebagai ancaman pada Israel. Itulah sebabnya Iran selalu dalam sorotan negara negara Barat ( Amerika dan sekutunya) karena kemampuan Iran menghasilkan senjata mutakhir.

Beda dengan Indonesia, ketika Amerika marah karena soal pelanggaran Ham militer Indonesia di Timor Timur ( kini Timor Leste), Amerika menjatuhkan sanksi tidak lagi mensupply sukung cadang pesawat tempur milik Indonesia yang dibeli dari Amerika. Dalam hal ini Pemeritah Indonesia meradang dan tidak bisa berbuat apa apa. Inilah kelemahan tergantung pada negara lain. Selalu ingin membeli.
Pernah ada analisis pertahanan yang bilang, bahwa sesungguhnya, pertahanan udara Indonesia kini hanya mampu bertempur selama tiga hari karena ketidakmampuan pembiayaan yang kurang diperhatikan di era rezim Jokowi.Betapa mengenaskan. Indonesia hanya besar seperti gajah. Indonesia kini masih sibuk memproduksi roket yang sudah ketinggalan jaman. Karena itu, Indonesia belum siap menghadapi perang modern.
Pengalaman perang dunia ke I dan II negara negara yang unggul dalam peperangan karena memiliki industri militer yang unggul yang mensupply peralatan militer pada tentara. Menurut Yuval Noah Harari, sejarahwan terkemuka bahwa perang masa depan ditentukan oleh kecanggihan tekhnologi. Kecanggihan mesin perang yang menentukan. Banyaknya tentara tidak lagi menentukan. Kemungkinan dimasa depan akan terjadi perang drone (tanpa awak).

*Perseteruan dua negara Super Power*
Tidak bisa dibantah bahwa kedua negara (China dan Amerika) sedang berseteru. Bukan hanya karena misi dan visi ideologis yang berbeda (Komunisme versus Kapitalisme- Liberalisme. Tapi juga soal hegemoni kawasan terutama di Laut China Selatan (LCS). Dalilnya adalah ketaatan pada hukum Internasional, tapi sesunggunnya kepentingan ekonomi dan hegemoni politik. Amerika menganggap China melakukan langkah sepihak di LCS yang melanggar hukum Internasional.

Banyak yang mengira akan terjadi konflik senjata antara Amerika dan China di LCS. Apa betul, negara besar itu mau berperang..?. Tentu mereka punya kalkulasi keuntungan. Menurut sejarahwan Noval Yoah Harari bahwa negara negara besar kini enggan berperang langsung karena alasan apa manfaat peperangan bagi mereka. Mereka lebih suka melihat perang antara proxi. Karena itu, yang mengkhawatirkan kalau terjadi konflik antara China dengan negara negara Asean. Akan merubah kawasan Asean dan LCS sebagai kawasan konflik.

*Kepentingan yang sama*
Walaupun Am erika dan China punya misi dan visi ideologis yang berbeda, tapi mereka punya pandangan yang sama pada Indonesia. Mereka punya kepentingan yang sama untuk mengsekulerkan mayoritas muslim Indonesia. Harapan Amerika bila sekularisasi berhasil, maka Indonesia dengan mudah dibawa pengaruh Amerika. China juga punya harapan yang sama dengan Amerika. Karena itu, kedua negara itu merasa senang dengan langkah Presiden Jokowi memerangi radikalisme dan menjalankan program sekularisasi. Memembersihkan birokrasi dari radikalisme. Tetapi para pengamat luar negeri melihat langkah Presiden Jokowi cenderung melanggar Ham karena menekan gerakan Islamis di Indonesia yang merupakan bagian penting demokratisasi Indonesia.

Baru baru ini (29/10/20) Mike Pompeo Menlu Amerika datang di Indonesia untuk bertemu dengan mitranya Menlu Indonesia Retno Marsudi. Juga sempat bertemu dengan Presiden Jokowi di Istanah Bogor tanpa salaman dengan alasan covid 19. Hasil yanģ konkrit dari kunjungan itu adalah dibukanya kembali GSP bagi Indonesia untuk meningkatkan Kerja sama ekonomi Indonesia dan Amerika. Beberapa waktu yang lalu, Presiden Trump membatalkan GSP untuk Indonesia dengan alasan Indonesia sudah masuk negara maju. Padahal sesungguhnya Trump kesel dan cemburu dengan keakraban Indonesia dan China yang dianggap Amerika sebagai ancaman.

Akhir akhir ini memang Pompeo gencar melakukan diplomasi kepada para Pemimpin kawasan sejak memanasnya kehadiran China di LCS.
Tetapi sebagian pengamat melihat bahwa kunjungan Pompe itu, menujukkan sensitivitas Amerika pada ancaman baru komunisme yang didukung China. Ada nyata pendekatan militer dan ideologi Amerika. Ditunjukkan dengan kunjungan Menham PS ke Amerika.Diperkuat dengan kunjungan “Delegasi DFC (US International Development Finance Cooperation). Juga hadirnya Sung Kim sebagai Dutabesar Amerika yang baru menariik perhatian banyak pengamat. Ada yang mengatakan bahwa Dubes itu adalah ahli komunisme dan ahli counter inteligence. Jadi bisa disimpulkan bahwa kehadiran Dubes Amerika yang baru punya misi anti komunisme.
Dari dulu Amerika sangat sensitif pada ancaman komunisme di Indonesia. Semua tahu kalau Amerika mendukung pembersihan komunisme paska G30 S PKI 1965, yang dilakukan oleh Ordebaru dipimpin Soeharto.

*Sikap Indonesia*
Sebagai bangsa Indonesia sesungguhnya sudah cukup kuat apabila dalam mengikuti pergolakan global tetap menahan diri pada politik luar negeri yang bebas aktif sesuai dengan amanat Konstitusi (Pembukaan UUD 1945).

Dunia butuh perdamaian. Tapi apakah Kepemimpinan negara besar punya komitmen perdamaian?.

Sejak serangan teroris pada gedung WTC New York 2001 yang lalu. Kebijakan Amerika menimbulkan keguncangan maha dasyat pada negara negara yang mayoritas penduduk Muslim seperti Afghanistan, Irak, Suriah, Libiya, Yaman dan mungkin tidak lama lagi Arab Saudi akan mengalami guncangan atau mungkin dihancurkan. Kebangkitan Arab spring untuk demokratisasi justeru berubah menjadi konflik antara golongan yang membawa pada kehancuran bagi negara negara Timur Tengah. Mereka terseret kedalam negara gagal dan butuh waktu 40-70 tahun untuk bangkit kembali.

Sekalipun Indonesia negara berpenduduk mayoritas muslim, tapi kekuatan global belum berhasil membangun konflik di Indonesia. Namun proses memecah belah pikiran sudah berlangsung paska serangan gedung WTC New York (2001). Memecah belah pikiran melalui issu radikal dan moderat.

Kenapa Indonesia mayoritas Muslim, tapi masih damai. Kenapa konflik terjadi di negara negara Muslim Timur Tengah ..?

Kondisi ummat Islam di Indonesia mayoritas golongan Sunni. Sedangkan golongan Syiah masih sangat kecil. Jadi di Indonesia dalam waktu dekat tidak mungkin terjadi konflik antara golongan Sunni dan Syi’ah seperti di Timur Tengah. Walaupun diketahui kaum liberal sedang berjuang untuk membesarkan Syiah di Indonesia. Dan itu butuh waktu yang sangat lama.

Juga tradisi Masyarakat Indonesia sejak dahulu bukan dibangun atas dasar konflik tapi atas dasar kolektivitas (kekeluargaan). Kehadiran agama makin nemperkuat semangat kolektivitas itu. Sejarah Indonesia masa lalu tak ada dendam konflik antara agama dan suku. Kalau ada sedikit konflik hanya terjadi antara kerjaan karena perebutan tahta.

Sedangkan negara negara Timur Tengah, sarat dengan sejarah konflik baik antara suku maupun antara intenal agama.

*China Komunis Versus Islam*
China dengan ideologi komunisme jelas menganggap agama (Islam) sebagai candu yang dianggap menghalangi kemajuan dan ancaman bagi komunisme. Sikap rezim komunis China pada Muslim Uighur merupakan buktinya. Karena itu, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar mesti waspada dengan ambisi China dengan gagasan ekspansi ekonomi one belt and one road.

China dengan ideologi komunisme tidak akan toleran pada kemajuan agama agama terutama Islam.
Peringatan Pompeo, Menlu Amerika agar Indonesia waspada pada PKC yang merupakan ancaman pada kebebasan beragama. Amerika terus menyoroti perlakukan China pada Muslim Uighur yang dianggapnya sebagai pelanggaran Ham.

*Mengelola Ancaman*
Amerika membuka tabir rahasia rencana China pada 12 negara yang bakal jadi ancaman invasi China. Indonesia masuk diantaranya. Banyak faktor yang membuat Indonesia jadi inceran negara lain antara lain luas wilayah, potensi kekayaan alam dan jumlah penduduk yang besar sebagai potensi pasar.

Disinilah Kepemimpinan Indonesia dibutuhkan untuk menakhodai NKRI secara tepat ditengah dua karang yang besar (negara Super Power) yang sedang bersaing untuk kepentingan hegemoni mereka. Bukan jadi pemimpin yang menjerumuskan Indonesia pada kehancuran. Sangat tepat ungkapan Jumly Assidhik, Ketua ICMI agar Indonesia tetap tegak lurus dengan politik luar negeri yang bebas aktif. Tentu untuk kedamaian Indonesia.

Jangan sampai Indonesia terjebak dan terperosok kedalam kubangan konflik seperti perang Vietnam dulu antara kekuatan Komunisme melawan Liberal- Kapitalisme. Indonesia bisa berubah menjadi medan konflik (Perang Vietnam Jilid II). Sangat berbahaya.Bukan mustahil hal ini bisa terjadi kalau melihat politik pendekatan kedua negara adidaya. Bisa punya dua pilihan, rangkul atau hancurkan..!. Tentu sebagai bangsa Indonesia ingin aman dan selamat bila tetap tegak lurus dalam politik luar negeri yang bebas aktif.

Save NKRI

Himahjalan
Kearifan Kepemimpinan
Asp Andy Syam
Peduli Kepemimpinan Bangsa.04/11/20

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *