oleh

Beberapa Poin Penting Kasus Prancis

Iklan Asia Mas Tour and Travel

Oleh : Dina Sulaeman

1. Pemerintah RI sudah menyatakan pernyataan resmi: mengecam keras aksi kekerasan, mengecam tindakan penghinaan terhadap agama Islam. Kata Presiden Jokowi, “Kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus diubah.”

Saya mendukung pernyataan ini.

2. Muncul upaya upaya pembahasan Macron dengan menyebut pidatonya dipelintir. Tapi, poin penting dari pidato Macron yang berita ketersinggungan sebagian umat Muslim adalah soal kartun menghina Nabi, yang dibuat tabloid Charlie Hebdo, tidak dibahas. Tonton video ini, biar apa perkataan Macron sebenarnya yang marah, awalnya terkenal di Timur Tengah, lalu meluas kemana-mana. Lihat mulai menit 1:07; Macron infrastruktur Paty (guru yang secara demonstratif menunjukkan karikatur Nabi di kelasnya) sebagai “pahlawan” dan Macron pernyataan “tidak akan menarik kartun itu.”

FYI, tidak semua Presiden Prancis sekoplak Macron (dan orang-orang Indonesia pembela Macron). Tahun 2006 itu, ketika pertama kali Charlie Hebdo bikin onar (dengan menerbitkan kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad), Presiden Prancis Jacques Chirac menyebut ini “provokasi terang-terangan” yang dapat mengobarkan kemarah. “Apa pun yang dapat melukai keyakinan orang lain, khususnya keyakinan agama, harus dihindari”, kata Chirac.

3. Presiden Macron bicara soal fundamentalisme Islam, terorisme, kekerasan (catet ya: INI PUN DILAWAN sebagian besar umat Muslim); tapi dia membiarkan orang-orang yang melakukan provokasi, atas nama “kebebasan”. Ibaratnya, udah tau ada segelintir orang yang ngamukan, eh malah dipancing-pancing ngamuk. Jangan lupa, Prancis juga yang mensponsori “jihad” di Suriah (silakan baca buku saya Prahara Suriah).

4. Ada yang bilang: ngapain tersinggung, toh yang digambar itu bukan Nabi Muhammad? Emang lo tau wajah Nabi?

Coba terapkan teori hermeneutik: sebuah karya itu selalu lahir dari konteks. Artinya, kita dalam menganalisis sebuah karya (teks, lukisan, lagu) seharusnya teliti pula konteksnya. Petunjuk petunjuk-petunjuk yang dibuat oleh si pembuat karya, sebenarnya apa yang dia sasar?

Dan begitulah cara kita membaca karikatur selama ini, kan? Contoh, tanpa disebut nama, kita bisa paham bahwa sebuah karikatur sedang membahas seorang pejabat. Dari mana kita paham? Ya dari konteks dan segala petunjuk / simbol yang ada di karikatur itu.

5. Sejak tahun 2006, cover tabloid Charlie Hebdo ada gambar orang Arab berserban hitam, dengan judul: “Mahomet débordé par les intégristes” (“Muhammad kewalahan oleh fundamentalis”), lalu ada balon yang berisi tulisan “C’est dur d’être aimé par des cons “(” sulitnya dicintai oleh kaum bodoh “). Waktu itu, organisasi Islam di Prancis melakukan pengadilan, tapi kalah.

Tahun 2011, sampul Charlie Hebdo berjudul “Hebdo Syariah”, bergambar seorang Arab berserban dengan balon berisi kalimat “hukum cambuk 100 kali kalau tidak mati ketawa”.

Di dalam tabloid ini, ada kartun-kartun yang mengolok-olok perilaku yang mereka sebut “syariah” dan di sampul belakang, ada gambar laki-laki yang buruk sekali, dengan hidung merah seperti badut, ditulis “Mahomet”, dengan kalimat “Islam itu cocok dengan humor ”.

Siapa Mahomet yang dimaksud? Di dalam tabloid itu, di bagian editorial, diagram “Editorial, oleh Muhammad” .. di akhir kalimat “Muhammad Rasul Allah”. Jadi, CH mengolok-olok, menyebutkan bahwa edisi “Sharia Hebdo” ini dieditori oleh Nabi Muhammad. [1]

Lalu, September 2020, CH malah mempublikasi ulang karikaturnya itu, padahal sudah jelas telah terjadi kekerasan akibat karikatur itu di tahun 2011 dan banyak nyawa yang melayang.

Orang normal akan membaca karikatur ini karya CH dengan cara normal pula, yaitu melihat konteksnya: ini sedang bicara soal Nabi Muhammad dan umat Muslim; ini sedang memprovokasi, mengejek, menghina.

Terlalu mengada-ada mencari tafsiran lainnya. Meskipun ada tafsiran, biasanya menggeser fokus, misalnya, “Ya kan emang bener, ada kelompok-kelompok teroris atas nama Islam?” [dan ga usah komen ngajarin saya soal ini karena saya sejak 2011 sudah ditulis soal Suriah yang jadi target penghancuran oleh Al Qaida, dan kemudian ISIS].

Jadi, fokus pada isu awal: Charlie Hebdo menggambar seseorang yang sangat jelas bisa ditafsirkan sebagai sosok Nabi Muhammad, dengan CARA BURUK.

6. Orang tersinggung BERBEDA dengan orang ngamuk dan penggal utama ya. JANGAN KOPLAK dengan menuduh orang yang tersinggung ketika Nabinya dihina SAMA DENGAN teroris yang melakukan aksi kekerasan.

Tersinggung, marah, adalah sebuah hak pribadi. Jadi, ketika (sebagian) umat Muslim TERSINGGUNG karena Nabi Muhammad, yang begitu dicintainya, dibuatkan karikatur yang amat-sangat buruk, itu adalah HAK. Siapa Anda melarang-larang kami tersinggung? Adakah UU yang melarang manusia tersinggung?

Yang SALAH dan melanggar hukum adalah mengungkapkan ketersinggungan itu dengan pembunuhan / terorisme. Ini sangat jelas, JANGAN dipelintir dengan menyamaratakan bahwa semua umat Muslim yang tersinggung sama dengan teroris.

Lalu, apa cara bijak mengungkapkan protes atas kekurangajaran Charlie Hebdo? Ya banyak, misalnya demo damai, ditulis di medsos, bikin acara diskusi, atau boikot. Boikot ga perlu diejek, itu kan hak pribadi. Duit-duit them, terserah mereka mau beli suatu produk atau tidak.

7. Sekedar info tambahan: kalau betul di Prancis ada kebebasan sehingga tulisan / gambar apapun yang dibuat orang tidak boleh, lalu mengapa Zeon, kartunis Prancis, pada tahun 2015 karena membuat kartun soal Zionis (tapi dia dituduh membuat kartu “anti-Yahudi” padahal Zeon sendiri seorang Yahudi). Lalu pernah ada kasus komedian Prancis M’bala M’bala yang karena dituduh melakukan gestur anti-Yahudi [istilah di Barat: “antisemit]. Mengapa Prancis melindungi sikap antipati pada Yahudi, tapi melindungi orang yang menggambar –dengan cara amat buruk– Nabi yang begitu diagungkan umat Muslim?

Jadi, menurut saya, sikap pemerintah RI adalah yang terbaik: mengecam aksi-aksi kekerasan atas nama agama, tetapi juga mengecam penghinaan terhadap agama.

Allahumma shalli alaa Muhammad wa aali Muhammad.

—–
[1] baca sebagian terjemahan kartun Charle Hebdo di sini: https://bogardiner.wordpress.com/2015/01/18/a-closer-look-at-sharia-hebdo-for-which-charlie -hebdo-office-were-firebombed-in-2011 /

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1063297054096549&id=233756860383910&sfnsn=wiwspwa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *