oleh

Iman Budi Hartono, Khabib Nurmagomedov hingga Pemimpin Dunia Kecam Emmanuel Macron

Iklan Asia Mas Tour and Travel

 

Politisi kawakan Kota Depok Imam Budi Hartono (IBH) mengecam Presiden Perancis Emmanuel Macron yang menjelekkan Islam. IBH mengatakan muslim sedunia wajib tersinggung. Apalagi dalam suasana peringatan Maulid Rasulullah Muhammad Shallallah ’Alaihi wa Sallam di tanggal 12 Rabiulawal 1442 Hijriyah bersamaan 29 Oktober 2020 Masias.

Macron tengah mendapat sorotan dan kritik dari banyak pihak setelah ia menyatakan Islam sebagai Agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Ketika muslim sedang gembira memperingati hari kelahiran pemimpin dunia dan akhirat mereka di sisi lain dunia, keluar pernyataan dan perilaku yang menghina akal sehat dan merusak keadabab peradabab dunia. Apalagi penghinaan tersebut keluar dari mulut politisi terkemuka abad 21 yaitu Emmanuel Macron, presiden negara Perancis.  Padahal Perancis  punya peradaban keadaban tinggi dan cemerlang sekaligus rekam jejak tirani dunia.

Mengutip IBH, wajar setiap peribadi muslim tak dapat terima pada penghinaan itu. Sudah tentu jelas, yang menghina itu tak lebih baik dari Nabi Muhammad Shallallah ’Alaihi wa Sallam. Saling memuliakan lebih baik, bukan hanya kepada nabi umat Islam dan tokoh suci umat Islam. Siapa pun nabi dan tokoh-tokoh agama apa pun tak pantas dihina. Pasti umatnya akan  marah.

Apalagi ini menyangkut nama besar Rasulullah Muhammad Shallallah ’Alaihi wa Sallam yang punya sekira 2 milyar pengikut. Pasti sebagian besar muslim membela nama baik rasulnya dengan ganjaran surga. Bela Rasulullah sebagi tanda cinta kepada penghulu alam yang menjadi bagian Rukun Iman. Jika ingin bersama Rasulullah di akhirat, harus bela.

IBH berharap seharusnya, Presiden Macron Emmanuel Macron tidak bicara seperti itu. Tak layak menghina tokoh suci umat Islam. Pasti umat Islam akan mengamuk. Demikian pula jika pemimpin beragama Islam memburukkan tokoh agama lain, pasti umatnya juga akan marah. 

IBH mengingatkan Presiden Perancis Emmanuel Macron harus minta maaf kepada umat Islam sedunia. IBH mengajak muslim Kota Depok untuk sama-sama mengecam Presiden Macron. Membuat penyataan sikap umat sedunia harus bersatu, menonjolkan kebaikan bukan keburukan.

Protes keras kepada Presiden Emmanuel Macron juga datang dari jagoan olahraga Mixed Martial Arts (MMA) Internasional khabib Nurmagomedov (Habib Nur Muhammad). Diunggahan akun Istagram warga Dagestan, Rusia, juara kelas ringan UFC ini menjelaskan sosok istimewa Nabi Muhammad Shallallah ’Alaihi wa Sallam bagi pemeluk agama Islam. Petarung berjuluk The Eagle itu menyebutkan pihak  pemuatan karikatur Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berbicara telah menantang Allah sebagai penguasa dunia.

Kecaman keras kepada Emmanuel Macron juga datang dari banyak pemimpin negara, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, Presiden Joko Widodo. Erdogan mengecam keras dengan mengatakan Macron perlu diperiksa kesehatan akalnya.

Mengutip Pikirang Rakyat, Presiden Erdogan menyebut negara-negara Barat yang mengejek Islam, ingin menyerukan Perang Salib kembali.

Erdogan menyebutkan, perlawanan atau serangan terhadap Nabi Muhammad Shallallah ’Alaihi wa Sallam merupakan masalah kehormatan bagi umat Muslim. Sedangkan tokoh politik kawakan ASEAN mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad ditutup akunnya oleh pihak Twitter yang menyalahartikan kecaman keras Mohammad kepada Macron.

Akibat dari siaran majalah satire Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad, telah menyebabkan pula kampanye di media sosial yang menyerukan boikot produk Prancis dari supermarket di negara-negara Arabia dan Turki.

Tagar seperti #BoycottFrenchProducts dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab #ExceptGodsMessenger menjadi tren di berbagai negara termasuk Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi, dan Turki.

Diwartakan Al Jazeera, di Kuwait, ketua dan anggota dewan direksi dari Al-Naeem Cooperative Society ikut memboikot semua produk Prancis dan mengeluarkannya dari rak supermarketnya. Sementara di Qatar, perusahaan Wajbah Dairy mengumumkan boikot produk Prancis. Juga,  melalui pengumuman di Twitter, Al Meera Consumer Goods Company, sebuah perusahaan saham gabungan Qatar, mengatakan telah melakukan penarikan produk-produk Perancis dari toko-tokonya. Tak ketinggalan, Universitas Qatar juga bergabung dalam kampanye tersebut. Pemerintah Qatar telah menunda acara Pekan Budaya Prancis tanpa batas waktu.

Kebencian, permusuhan hingga Islamophobia tak henti-hentinya dipropaganda dengan provokatif oleh kaum politisi Eropa dan Barat.  Presiden Perancis Emmanuel Macron menuduh ada muslim radikal hendak mengubah sekularisme dan liberalisme di Perancis. Di lain pihak, Macron membela tingkah seorang guru sejarah di Prancis, Samuel Paty (47) juga yang membahas sejarah perang salib di negeri al-Quds Palestina dari sebagai bentuk pembenaran ideologinya. 

Tak sampai di situ, Paty juga mengajarkan tentang parodi kartun Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihiwassalam di dalam kelas seraya mengejek yang kemudian menuai kontroversi. Paty tak peduli, bahwa nilai kebebasan yang dianutnya jangan sampai melanggar dan menghina keyakinan orang lain. Akibat ulahnya ini Samuel Paty dibunuh oleh seorang pemuda Abdoullakh Anzorov (18) yang kemudian ditembak mati oleh polisi Perancis.

Emmanuel Macron dan Samuel Paty juga tak peduli bahwa, nilai liberalisme dan sekularisme itu jangan sampai mengganggu dan menghina keyakinan orang lain.  Samuel Paty dan Emmanuel Macron dapat saja punya faham tak peduli dengan agama, atau menghina Tuhan, Rasul, Nabi, sampai simbol keagamaan apa pun tetapi, Macron dan Paty lupa sejarah bahwa penghinaan dialamatkan kepada kaum muslim berakibat fatal. 

Tak hanya sekedar paham sekularisme atau Charlie Hebdo, Macron juga sedang membenci Turki sebagai representasi Islam. Turki dengan Yunani sedang berseteru mengenai eksplorasi sumber daya mineral di Laut Mediterania dimana Perancis ikut campur membela Yunani.  

Diingatkan Recep Tayyip Erdogan semestinya kebudayaan Eropa atau Barat jangan melupakan sentimen emosional perseteruan tempo doeloe  antara Imperium Romawi, Imperium Tahta Suci Roma, atau Kerajaan Frank berhadapan Kekhalifahan Umaiyah, Mamluk, Turk Seljuk, atau Turk Utsmaniyah.

Sejarah kelam ini seharusnya jadi pelajaran jangan sampai terulang. Sejarah adalah ilmu pengetahuan tentang masa lalu yang menjadi pelajaran jangan sampai kembali terjadi masalah buruk. Menjadi cermin untuk masa kemudian lebih baik.

Polah Macron ini kembali menyegarkan paparkan ilmuwan politik Samuel P Huntingtond dalam pidatonya tahun 1992 di American Enterprise Institute  tentang Benturan peradaban atau clash of civilizations (CoC). Teori ini memaparkan bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia pasca-Perang Dingin.

Kemudian, dikembangkan dalam artikel Foreign Affairs tahun 1993 berjudul “The Clash of Civilizations (?)” sebagai tanggapan atas buku karya mahasiswanya, Francis Fukuyama berjudul The End of History and the Last Man (1992).

Huntington kemudian mengembangkan tesisnya dalam buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996).

Frasa ini pernah digunakan oleh Filosof Perancis Albert Camus pada tahun 1946. Juga oleh sejarawan Bernard Lewis dalam artikel The Atlantic Monthly edisi September 1990 berjudul “The Roots of Muslim Rage”. Frasa ini juga muncul di sebuah buku terbitan tahun 1926 tentang ‘Timur’ karya Basil Mathews: Young Islam on Trek: A Study in the Clash of Civilizations (p. 196). Istilah ini diambil dari konsep benturan budaya yang sudah pernah dipakai pada masa kolonialis dan imperialis Eropa awal di abad 15.

Kini, peradaban baru telah muncul. Muslim di abad 20 dan 21,  berkembang pesat di Eropa terutama di Perancis. Ada pula warga Perancis Eropa yang jadi mualaf. Tetapi sebagian besar muslim adalah mayoritas imigran dari negara Maroko, Aljazair, Mauritania, Mali, Senegal, Guinea, Pantai Gading, Burkina Faso, Benin, Niger, Chad, Republik Afrika Tengah, Gabon, Kongo, dan Madagaskar. 

Negara-negara ini sejak dari abad ke 15 adalah kawasan kolonisasi atau jajahan Perancis dengan membawa semangat Perang Salib. Bangsa yang dijajah terpuruk dan membuat Perancis makmur dari jarahan kekayaan menguras sumber daya alam dan manusia di negara-negara jajahannya. 

Di Abad ke-20 setelah negara-negara berpenduduk muslim ini merdeka, banyak warganya berimigrasi ke Perancis. Sebagian dari negara merdeka ini menjadikan bahasa Perancis sebagai bahasa nasional sehingga  penduduk setempat dapat berbahasa Perancis.

Di Perancis tidak sedikit pula warga negara bekas jajahan ini yang berprestasi di segala bidang. Diantaranya, di olahraga sepakbola ada tokoh seperti Zinedine Zidane, Paul Pogba, Umtiti,  Kante, Blaise Matuidi,  Mbappe, atau Ousmane Dembele,

Kolonialisme adalah penguasaan wilayah negara atau oleh bangsa lain dengan maksud untuk memperluas wilayah kekuasaan bangsa tersebut. Sementara itu, imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapat kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar.

Kolonialisme dan imperialisme berkembang sejak abad ke-15 oleh bangsa Eropa ke berbagai wilayah dunia. Nyaris, tak ada wilayah dunia yang tak dikuasai bangsa Eropa ini.  Faktor pendorong diantaranya adalah kalahnya Eropa di Perang Salib dan jatuhnya Imperium Konstantinopel Byzantium atau Romawi Timur Kristen kepada Kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman) di tahun 1453.  Akibatnya, Jalur Sutera perdagangan Asia-Eropa berabad-abad yang lalu melewati laut tengah dikuasai Turk Ustmani. Kerajaan-Kerajaan Eropa waktu itu tidak mau berdagang antara Barat-Timur dengan perantara wilayah Turk Utsmani.

Bahan perdagangan yang terkenal di Abad Pertengahan itu adalah, rempah-rempah, logam mulia, dan kulit binatang. Walau di internal bangsa Eropa mareka saling berperang dan intrik politik namun,  kebencian kepada Islam tetap kuat. Hal ini memaksa bangsa Eropa untuk mencari jalur perdagangan baru melalua jalur pelayaran Samudera Atlantik yang ganas langsung ke kawasan Timur. Kawasan Hindustan adalah sasaran utamanya.

Rempah-rempah ini berharga tinggi untuk pasar konsumsi Eropa yang beriklim dingin serta untuk pengobatan. Kebutuhan rempah menjadi alasan bagi Eropa melakukan penjelajahan mengingat harganya yang tinggi di pasar Eropa.

Golongan pedagang dan bangsawan ingin memperoleh keuntungan dan kekayaan sebanyak mungkin. Mereka juga memiliki ambisi 3G, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold berarti mencari keuntungan dengan mengumpulkan bahan dan barang berharga. Glory berarti menyebarkan kekuasaan seluas-luasnya; sementara Gospel berarti penyebaran agama yang dianut bangsa Barat saat itu yaitu Kristen dan Roma Katolik.

Mengutip sejumlah media massa, sikap lunak tentang sengketa isue agama ini datang dari Presiden Dewan Muslim Perancis, Mohammed Moussaoui. Dia menegas muslim untuk mengabaikan kartun Nabi Muhammad tersebut. Hal itu dianggapnya lebih baik daripada menggunakan kekerasan dalam sejumlah aksi di tengah kemarahan umat Islam. Moussaoui lantas mengingatkan bahwa karikatur semacam itu memang diizinkan berdasarkan hukum Perancis.

Moussaoui menyarankan umat Islam untuk mengikuti teladan Nabi Muhammad yang mengabaikan hinaan ketika banyak sekali orang yang mengejeknya. Bahwa lebih sejalan dengan teladan Nabi Muhammad yang mengabaikan karikatur ini dan menganggapnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam.

(Penulis Hendrik I Raseukiy, praktisi pers, (Dari pelbagai sumber))

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *