oleh

Riwayat Imam al Bukhari: Siasat dan Tuduhan Jahat versus Integritas Diri

Iklan Asia Mas Tour and Travel

 

Tatkala orang bermaksud buruk, pelbagai cara dilakukan pelaku termasuk menebar fitnah ataupun merekayasa tuduhan. Ternyata, si penuduh itulah yang punya niat buruk tersembunyi. 

Biasanya, jika ingin  seseorang bermaksud menuduh orang lain maka orang ini mengarang cerita bohong atau menuduh lebih awal. 

Salah satu tonggak bersejarah di bulan Syawal adalah kelahiran imam besar dalam bidang hadis yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari atau yang terkenal dengan sebutan Imam Bukhari. Keluarga Imam al-Bukhari berbangsa Parsia bermazhab sunni. 

Sang Imam lahir di Kota Bukhara pada 13 Syawal 194 Hijriyah atau 21 Juli 810 Masehi. Masa itu Kota Bukhara adalah Ibu Kota Provinsi Khurasan, Negara Khilafah Abbasiyah yang ber-Ibu Kota di Kufah. 

Sekarang di abad 21 ini, Bukhara berada di Provinsi Samarkhan, Uzbekistan. Setelah negara Asia Tengah ini melepaskan diri dari cengkraman negara komunis Uni Sovyet tanggal 26 Desember 1991 di Abad 20 lalu. Di masa itu, Kota Bukhara adalah kota penting Jalur Sutera perdanganan Dunia dari Tiong Kok ke Eropa ketika Kekaisaran Romawi Kekristenan Nicea.

Ayahnya, Ismail, adalah seorang ulama yang salih dari kalangan bangsawan. Imam Bukhari lahir dengan lingkungan yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Sejak kecil, Imam Bukhari sudah menunjukkan bakat-bakat kecerdasan. 

Imam al-Bukhari digelari Amirul Mukminin fil Hadits yaitu, pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal ilmu hadist yang menjadi rujukan muslimin dunia mengenai hadist.

 

Alkisah, suatu hari Imam Al-Bukhari melakukan perjalanan ke suatu wilayah dengan menumpang sebuah kapal laut. Dalam perjalanan ini Imam membawa uang untuk sebesar 1000 dinar dalam sebuah peti untuk keperluan kebutuhan hidup dalam berdakwah dan mencari madrasah mendapat ilmu dari para guru. 

Uang emas sebesar 1000 Dinar bukan jumlah yang kecil. Mata uang dinar adalah mata uang yang tidak turun nilainya malah bertambah. Jika dahulu takaran selempeng uang dinar seberat 4,24 gram maka ada 4,2 kilogram emas uang yang dimiliki Imam al-Bukhari. Kemudian, dihitung emas murni harga dirata-ratakan Rp1 juta per gram maka dalam dengan kurs rupiah ada senilai Rp4,2 miliar uang yang dimilikinya. 

Di kapal laut itu berkenalan dengan  seorang lelaki. Lelaki ini mendekati Sang Imam dengan memperlihatkan keakraban.

Lelaki ini terus mengajak beliau bercerita. Ketika Imam Al-Bukhari sudah merasa dekat dengan lelaki tersebut, suatu hari, di dalam perjalanan, beliau mengabarkan kepada lelaki tersebut perihal uang dinarnya.

Ternyata siasat licik sudah dirancang oleh lelaki ini. Suatu hari, ketika lelaki tersebut bangun dari tidurnya, Dia berpura-pura menangis histeris dan meratap sampai semua penduduk kapal mengelilinginya dan menanyakan sebab tangisannya.

“Aku kehilangan uang sebanyak 1000 dinar!” katanya sambil terus menangis bermaksud memfitnah untuk menguasai uang.

Maka mulai lah petugas kapal dan orang-orang memeriksa seluruh penjuru kapal. Sedangkan Imam Al-Bukhari setelah mengetahui keadaan tersebut, lalu secara sembunyi-sembunyi membuang uangnya ke lautan.

Setelah selesai memeriksa seluruh penjuru kapal, orang-orang kembali dengan tangan hampa, nihil. Mereka lalu mulai mencerca lelaki tersebut dan menyebutnya sebagai pembual.

Ketika perjalanan tiba, kapal pun berlabuh. Sebelum penumpang kapal turun dan mareka berpisah, lelaki tersebut mendatangi Imam Al-Bukhari dan terjadilah percakapan di antara keduanya,

“Engkau kemanakan uang-uang dinar tersebut?” Tanya si lelaki penasaran. 

“Aku membuangnya ke laut,’ jawab Sang Imam

“Bagaimana bisa kamu sabar kehilangan uang sebanyak itu?” lelaki tersebut sangat keheranan.

Imam Al-Bukhari menjawab, “Aku telah menghabiskan seluruh hidupku untuk mengumpulkan hadis-hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa Salam. Seluruh dunia telah mengenal kejujuranku. Sama sekali tidak mungkin aku mengorbankan kepercayaan tersebut hanya karena tuduhan mencuri, berapa banyak pun jumlahnya! Apakah mutiara mahal (kepercayaan umat) yang telah aku cari sepanjang hidupku akankah aku korbankan demi sejumlah uang dinar itu?”. 

Demikianlah pelajaran pentingnya jaga integritas diri dari serangan pefitnah atau pembuat berita bohong.  (Hir.72/Mut/pelbagai sumber)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *