oleh

Tiga Tahun DKI di Bawah Kepemimpinan Anies Baswedan

Iklan Asia Mas Tour and Travel

 

Tepat hari ini, Anies Baswedan telah tiga tahun memerintah Provinsi DKI Jakarta. Apakah para pendukungnya menyadari waktu yang berlalu tiga tahun ini? Tampaknya tidak. Karena tidak terlihat ada acara syukuran. Atau mungkin tidak ada alasan untuk mengadakan syukuran.

Setelah setahun penuh DKI mengalami hiruk-pikuk menyangkut Ahok, Anies Baswedan dilantik bersama Sandiaga Uno pada 16 Oktober 2017, setelah menang elektoral. Pasangan ini tak bertahan lama. Dan harus berpisah kendati digambarkan sebagai pasangan gubernur – wakil gubernur yang akrab dan romantik.

Tidak genap setahun, Sandiaga Uno melepas jabatannya dan memusatkan perhatian menjadi pasangan Prabowo untuk calon presiden menantang Jokowi – Mafuf. Secara resmi, pada 10 Agustus 2018, Sandiaga Uno mundur dari Wakil Gubernur DKI.

Walhasil, dari hari itu hingga 6 April 2020, Anies Baswedan memerintah Jakarta sendirian. Tentu lebih leluasa dalam memutuskan kebijakan dibandingkan harus ada Wakil Gubernur.

Pada 6 April 2020, dengan segala hiruk-pikuknya, maka terpilihlah oleh DPRD DKI Riza Patria, politisi dari Gerindra.

Tiga tahun jabatan gubernur, tentu sudah banyak yang dilakukan. Dan tersisa dua tahun lagi. Paling efektif setahun lagi. Karena setahun jelang pilkada, adalah hari-hari yang menyita antara semi kampanye, kampanye terang-terangan dan memerintah secara rutin.

Sejak Anies memegang DKI, adakah yang signifikan dan monumental dirasakan oleh warga DKI? Perubahan apa saja yang sudah dinikmati, terutama oleh basis pemilihnya yang didorong oleh alasan emosional keislaman?

Suatu saat saya mengunjungi situs Pangeran Jayakarta. Lanjut keluyuran ke kawasan Jatinegara Kaum pada tahun yang lalu. Saya pikir, situs itu akan mendapatkan perhatian khusus dari Gubernur Anies, ternyata tidak. Dia lebih memperhatikan jembatan penyeberangan Sudirman dipasang berkelap-kelip.

Kenapa saya menduga situs Pangeran Jayakarta dan Kawasan Jatinegara Kaum itu akan mendapatkan perhatian khusus? Karena keterpilihan dirinya sebagai pemimpin Jakarta didorong oleh semangat perlawanan dan keagamaan yang kental. Dan itu relevan dan sejajar dengan sejarah Pangeran Jayakarta dan penduduk Jatinegara Kaum. Rupanya perkiraan saya meleset total. Situs penting ini sama sekali tidak dihiraukan. Apalagi jika dijadikan monumen perawatan semangat perlawanan pribumi.

Di lain waktu belum berapa lama, saya mengunjungi penjual jengkol di bilangan Cipinang belakang penjara. Tentu saja saya masuk dari gang ke gang. Kekumuhan lingkungan segera menyergap saya. Rumah yang sempit dan sulit mendapatkan sinar matahari yang cukup, menumpuk dengan jejalan penduduk. Benar-benar penduduk. Di gang-gang itu, banyak orang usia produktif cuma duduk-duduk. Mereka mungkin tidak punya pekerjaan. Dan rumah yang saya kunjungi itu, sempit. Ada yang mandi dan mencuci di luar rumah. Aurat dimana-mana. Saya langsung terpikir, goodbener macam apa ini? Padahal tipologi penduduk dan basis semacam inilah yang melimpahkan suara kepadanya.

Namun dari sekian banyak kealfaannya untuk mengentaskan kemiskinan di DKI, beberapa yang terpuji dari kebijakannya tentulah banyak juga. Perhatiannya untuk mengamankan warga dari wabah covid-19, tentu tidak diperdebatkan. Demikian juga perhatiannya terhadap masjid dan trotoar, juga tidak diperdebatkan.

Tapi yang paling utama adalah bagaimana DKI tidak lagi kecolongan terpilihnya politisi tipe Ahok pada Pilkada akan datang. Dalam soal ini, tentu Anies harus turut berkontribusi. Kontribusi akan hal itu adalah membangun penduduk miskin DKI agar lepas dari jeratan kemiskinan dan kebodohan. Sayangnya, belum terlihat nyata solusi terhadap hal tersebut. Buktinya, kawasan-kawasan miskin tetap tak terkikis, malahan makin menggumpal. (SED)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *