oleh

INDONESIAKU MENJERIT, PANDEMI COVID KIAN MELEJIT

Iklan Asia Mas Tour and Travel

 

Pada awal 2020, dunia dikejutkan dengan mewabahnya pneumonia baru yang bermula dari Wuhan, Provinsi Hubei yang kemudian menyebar sangat cepat ke lebih dari 190 negara. Wabah ini diberi nama coronavirus disease 2019 (COVID-19), yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus tetapi tidak sedikit yang harus kehilangan nyawa karna virus ini. Orang yang terinfeksi virus ini, biasanya mengalami gejala demam, batuk, pilek, pusing, mual, diare sesak nafas hingga gagal nafa. Namun tidak sedikit orang tanpa gejala (OTG). Mulanya, Indonesia pertama kali terkonfirmasi positif Covid-19 yaitu 02 maret 2020, yaitu 2 orang. Hingga Pada sabtu (10/10/2020) terdapat 4.294 kasus baru Covid-19.

Penambahan tersebut menyebabkan total kasus Covid-19 saat ini tercatat 328.952 orang, terhitung sejak kasus pertama pada Maret 2020. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk membantu menekan penyebaran virus tersebut. mulai dari physical distancing, social distancing hingga Pembatasan sosial berskala besar. Dapat dikatakan bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah mampu membantu menekan penyebaran virus, namun bukan berarti virus dapat dikendalikan dengan baik. Karena faktanya, virus ini terus saja menyebar dan menambah jumlah angka penderita Covid-19.

Indonesia sudah cukup panik dengan permasalahan kesehatan yang memang sedang terjadi hampir di seluruh dunia ini. Bukan hanya aware, tidak sedikit masyarakat yang memiliki ketakutan berlebih hingga trauma. Tetapi, beberapa hari terakhir, Indonesia kembali di gegerkan dengan masalah sosial kemasyarakatan. Ya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (5/10/2020) lalu, telah mengetuk palu tanda telah disahkannya Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang pada saat masyarakat tengah tertidur pulas. Sebelumnya, di oktober 2019 Presiden pernah menyampaikan terkait perubahan konsep hukum ini. Namun, tidak diduga-duga bahwa konsep hukum omnibus law ini ternyata jauh dari harapan masyarakat.

Kebijakan ini tentu membuat warga Indonesia terkejut, panik bahkan sesak dan tidak sedikit yang merasa hatinya remuk. Indonesiaku menjerit !!!! Ya, Indonesiaku menjerit !!
Pengesahan RUU itu terkesan terburu-buru dan merugikan masyarakat khususnya para buruh. Semua bangkit, ya Indonesia bangkit, Indonesia bangun dari tidur panjangnya. Yang beberapa bulan terakhir dibuat diam karna Covid-19. Kaum mudapun ikut turun ke jalan mendampingi teman-teman buruh. Semua menyampaikan aspirasinyaaa, melupakan aturan physical distancing, social distancing bahkan tidak sedikit yang tidak menggunakan masker.

Karena sebagian dari mereka, teriakan-teriakan hati yang saat ini sedang mereka perjuangkan lebih penting dari pada masalah kesehatan mereka.
Setelah berbagai keributan terjadi di beberapa daerah, massa demonstran hadir dan penuhi pusat-pusat kota. Dan, beberapa hari setelah orang-orang turun ke jalan untuk berdemo, jumlah penderita Covid-19 kembali melejit. Jauh dari angka biasanya. Luar biasaaaa …. !!!!

Upaya-upaya yang di lakukan beberapa
bulan terakhir, ternyata hancur dan terkesan sia-sia karena kebijakan baru yang dibuat pemerintah. Angka kasus Covid-19 semakin sulit ditekan.
Lalu, Apakah masyarakat di anggap tidak taat aturan ? saya rasa tidak. Karena permasalahan ini terjadi karena ada pemicunya. Ya, bukan kesalahan masyarakat yang melanggar aturan, namun lebih ke bentuk respon masyarakat terhadap kebijakan yang dibuat. Semoga ada peninjauan kembali atas keputusan yang telah disahkan.

Penulis: Siti Nur Fauziah
Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Pascasarjana Uhamka dan Tenaga Medis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *