oleh

Ta’ammulat Qur’aniyah (98)

Iklan Asia Mas Tour and Travel

وَاِ ذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰـتُـنَا بَيِّنٰتٍ تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا الْمُنْكَرَ ۗ يَكَا دُوْنَ يَسْطُوْنَ بِا لَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ عَلَيْهِمْ اٰيٰتِنَا ۗ قُلْ اَفَاُ نَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّنْ ذٰ لِكُمُ ۗ اَلنَّا رُ ۗ وَعَدَهَا اللّٰهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ۚ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang niscaya engkau akan melihat (tanda-tanda) keingkaran pada wajah orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka *menyerang* orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Katakanlah (Muhammad), Apakah akan aku kabarkan kepadamu (mengenai sesuatu) yang lebih buruk daripada itu, (yaitu) neraka? Allah telah mengancamkannya (neraka) kepada orang-orang kafir. Dan (neraka itu) seburuk-buruk tempat kembali.”
(Al-Hajj: 72)

• Ayat ini memberi jawaban terhadap keheranan sebagian orang, kenapa terjadi serangan, baik dengan lidah atau pisau tajam, terhadap ahlul Qur’an?

• Karena al-Quran adalah cahaya yang sangat terang benderang, yang menerangi hati dan pikiran yang sehat.

وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكُمْ نُوْرًا مُّبِيْنًا

“… dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur’an).” (An-Nisa’: 174)

• Jika hati dan pikiran sakit, maka cahaya yang sangat terang itu membuat hati dan pikiran tersebut bertambah sakit hingga tidak kuat sekedar mendengar bacaan al-Quran. Seperti mata yang sakit, tidak bisa melihat sinar matahari. Sinar matahari yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, itu dianggap membahayakan dirinya lalu dimusuhinya. Bahkan ia berusaha memadamkan cahayanya.

• Usaha untuk memadamkan cahaya al-Quran ini makin menunjukkan kebodohannya. Ibarat orang yang ingin memadamkan cahaya matahari dengan tiupan mulutnya.

يُرِ يْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـئُــوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَ فْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّاۤ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْـكٰفِرُوْنَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (At-Taubah: 32)

• Sebaiknya orang yang hati dan pikirannya sakit segera “berobat” dan bertobat dengan membuka hati dan pikiran untuk menerima al-Quran, bukan mencurigai dan membenci para pembacanya. Karena al-Quran ini akan menjadi obat penyembuh bagi hati dan pikiran yang membuka diri kepadanya.

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (Yunus: 57)

• Di sisi lain, para pecinta al-Quran harus waspada karena di dalam kehidupan seperti sekarang ini selalu ada orang yang sakit hati dan pikirannya. Al-Quran yang berisi penawar hati, petunjuk dan rahmat itu dianggapnya berbahaya. Padahal sumber masalahnya bukan al-Quran, tetapi hati yang gelap dan pikiran yang bengkok.

• Mari membuka hati kepada al-Quran dan mencintainya, bukan mencurigai dan memusuhinya. Karena al-Quran ini rahmat dan cahaya bagi alam semesta.

• Di dunia ini tidak ada kekuatan yang mampu memadamkan cahaya al-Quran. Karena cahaya al-Quran lebih kuat dari cahaya matahari. Sinar dan cahaya matahari tidak bisa masuk menembus rumah dan dada manusia, tapi cahaya al-Quran bisa melakukannya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *