oleh

MUHASABAH : BERSABAR DI ATAS KEBENARAN

Iklan Asia Mas Tour and Travel

Saudaraku,

Rasullah SAW telah memprediksi di masa yang akan datang akan ada suatu masa di mana penguasa melakukan berbagai kebohongan dan sebagian orang mendatanginya serta membenarkan kebohongannya, menolong atas kedzalimannya,

وأخرج الترمذي وصححه، والنسائي، والحاكم وصححه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سيكون بعدي أمراء، فمن دخل عليهم فصدقهم بكذبهم، وأعانهم على ظلمهم، فليس مني، ولست منه، وليس بوارد علي الحوض، ومن لم يدخل عليهم، ولم يعنهم على ظلمهم، ولم يصدقهم بكذبهم، فهو مني، وأنا منه، وهو وارد علي الحوض

“Akan ada sepeninggalanku para penguasa, maka siapa yang mendatanginya dan membenarkan kebohongannya, menolong atas kedzalimannya, bukan golonganku, serta aku bukan golongan dia, dan tidak akan memasuki haudh, dan siapa saja yang tidak mendatanginya, tidak menolongnya atas kedzalimannya, tidak membenarkan kebohongannya, termasuk golongku dan akan memasuki haudh.”

(HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Al-Hakim)

Saudaraku,
Pada akhir zaman akan semakin sedikit kebaikan, semakin banyak kebathilan dan kemungkaran, semakin banyak yang menentang kebenaran, dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat kekuasaan dan condongnya manusia cinta kepada dunia…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan datang suatu masa, di mana orang yang bersabar (berpegang teguh) pada agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api”

(HR. At-Tirmidzi no. 2260, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 8002)

Saudaraku,
Di dalam situasi dan kondisi bagaimanapun kita dianjurkan untuk tetap istiqamah senantiasa bersabar di atas agama dan kebenaran, tidak panik dan terpancing amarah…

Saudaraku,
Kondisi hati seorang mukmin pada intinya dapat kita kualifikasikan menjadi tiga, yaitu:

_Pertama,_ _Qalbun salim_ atau hati yang sehat. Hati dengan kondisi yang sehat memiliki ciri-ciri berorientasi akhirat, mencintai Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya lebih dari apa pun, sedih bila kehilangan kesempatan untuk beribadah kepada-Nya, serta senantiasa rindu kepada Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya juga pada ayat-ayat Al-Quran…

_Kedua,_ _Qalbun marid_ atau hati yang sakit. Hati dengan kondisi ini akan kurang berfungsi dalam memahami perbedaan antara yang haq dan yang hoax, yang betul dan yang bathil…

_Ketiga,_ _Qalbun mayyit_ atau hati yang mati dan sudah tidak dapat digunakan untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil.

Saudaraku,
Seseorang dengan kondisi hati yang telah mati inilah yang tidak akan merasa berdosa ketika dirinya melakukan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla. Seorang muslim yang telah terbiasa berbuat dosa sehingga tidak ada lagi rasa penyesalan di dalam hatinya, perlu dipertanyakan kembali keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Azza wa Jalla. Sebab, bisa saja dirinya telah tergolong sebagai orang munafik tanpa dia sadari. Alasannya, orang munafik menganggap perbuatan dosa yang telah dilakukannya seperti lalat yang kecil. Sedangkan, orang beriman menganggap dosanya seperti gunung besar yang diletakkan di atas kepalanya…

Saudaraku,
Kita tidak perlu khawatir bila diri selalu berada pada jalan kebenaran. Bila diri selalu berada pada kepasrahan dan ketundukan yang Allah Azza wa Jalla selalu akan hadir dengan pertolongan. Sebagai janji dan jaminan kepada hamba-Nya yang senantiasa bersabar di atas kebenaran…

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bersabar di atas kebenaran untuk meraih ridha-Nya.
Aamiin Ya Rabb.

_Wallahua’lam bishawab_

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *