oleh

Aniaya Hingga Tewas Anaknya, Komnas PA: Pasutri Terancam Hukuman 20 Tahun

Iklan Asia Mas Tour and Travel

Banten, TributeAsia.com — Pasangan suami istri inisial IS (27) dan LH (26) warga Lebak, Banten yang menghilangkan secara paksa hak hidup anak kandungnya sendiri dengan cara menganiaya, membunuh dan menguburkan secara tidak layak di utarakan Komnas PA patut mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

Mengingat kedua pelaku adalah orangtua kandung korban yang seyogianya menjaga dan melindungi anak berdasarkan UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI NOmor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

” Pasutri ini terancam 20 tahun pidana penjara ditambah sepertiga dari hukuman pidana pokoknya menjadi pidana seumur hidup,” tegas Aris Merdeka Sirait Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Rabu (16/9/2020).

Lanjutnya, ” Dalam kondisi dan situasi apapun korban, siapapun pelakunya dan sampai kapan pun, tidak ada alasan dan toleransi terhadap perampasan hak hidup seseorang. Apalagi terhadap anak kandung sendiri dengan cara menganiaya, menyiksa, dan mengakibatkan meninggal dunia. Oleh karenanya, pasutri IS (27) dan LH (26) patut dijerat dengang pidana seumur hidup,” ungkap Arist.

Hasil autopsi korban anak usia 8 tahun yang dianiaya oleh orang tuanya IS (27) dan LH (26) menunjukkan ada bekas luka lebam di bagian kepala. Luka itu diduga akibat hantaman benda tumpul, dan setelah itu pelaku menguburkan jasad anai perempuan usia 8 tahun tersebut secara tidak layak di TPU Gunung Kandang, Lebak, Banten.

” Dari hasil autopsi, kepala kanan dan pada tulang tengkorak luka lebam akibat hantaman benda tumpul,” demikian disampaikan Kasat Reskrim Polres Lebak, AKBP David Kusuma.

Jasad anak malang ini dibongkar warga dan kepolisian pada Sabtu 12 September lalu dalan kondisi jenazah memang sudah tidak bisa diidentifikasi. Dalam keterangannya, pelaku sendiri yang menguburkan korkan. Korban ditemukan oleh warga setempat setelah tiga pekan telah dimakamkan pelaku.

” Berdasarkan hasil keterangan pelaku Ibu korban LH memang melakukan penganiayaan mengakibatkan dan korban meninggal dunia,” jelas dia lagi.

Perlakuan ini disinyalir sudah sering dilakukan karena ada bukti foto dan video di mana korban terlihat lebam di bagian wajah dan penganiayaan terakhir saat kejadian mengakibatkan korban tewas.

” Penganiayaan korban dilakukan oleh tangan kosong termasuk gagang sapu. Saat kejadian korban jatuh tersungkur membuatnya korban lemah tidak berdaya. dan ketika diangkat korban merasa lemas dan sesak nafas. Ibu (pelaku) merasa si korban ini main-main kemudian ibu menambah pukulan tiga kali ke arah belakang kepala korban,” tandasnya.

Pasangan suami istri IS dan LH saat ini masih menjalani pemeriksaan secara intensif di Polres Lebak. Ia menambahkan, pasutri bengis ini ditangkap tidak lebih dari 24 jam setelah polisi menemukan jenazah korban. Sebelum ditangkap, keduanya juga berupaya menyembunyikan kejadian dengan membuat laporan.

Untuk kerja cepat dan tepat yang dilakukan Polres Lebak dalam mengungkap tabir kematian bocah perempuan usia 8 tahun yang dilakukan oleh pasutri di Lebak Banten ini patut diapresiasi.

Oleh karena itu, Komnas Perlindungan Anak memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerja keras, cepat dan tepat yang dilakukan oleh jajaran Kasat Reskrim Polres Lebak. Dalam waktu dekat Komnas Perlindungan Anak dan LPA Kabupaten Lebak bersama P2ATP2A Lebak akan membentuk tim advokasi dan Investigasi untuk rehabilitasi dan pemuihan psikologis. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *