oleh

Pradi: Covid-19 Ini Kisah Mahasiswa Indonesia di Spanyol kepada Ayahnya

Iklan Asia Mas Tour and Travel

Depok, TribunAsia.com – Pevita Pradinda adalah mahasiswi Indonesia di Spanyol asal Kota Kota Depok yang sedang belajar tahun ketiga di Conservatorio de Musica de Las Palmas, Gran Canaria, España.

Pevita, merupakan anak ketiga dari Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriana, melalui telepon saling bertukar kabar dengan ayahnya.

Dilaporkan, Minggu (29/3), Pevita mengisahkan bahwa dirinya dalam keadaan dalam tanggal Lockdown seluruh wilayah Kerajaan Spanyol ini yang sudah berlangsung 14 hari. Tapi, Pevita mengaku sudah mengisolasikan diri secara mandiri selama 17 hari belakangan ini.

Dalam masa kuliahnya ini, Pevita mondok di daerah perkampungan alami pada sebuah keluarga dokter sehingga tidak terlalu kontras nuansa lockdown-nya.

“Alhamdulilah, saya sehat, baik baik saja. Saya sudah tidak keluar rumah lagi sudah 17 hari,” ujar Pevita.

Disebutkannya, Kerajaan Spanyol menerapkan lock down yang tegas dengan sanksi yang keras berupa denda minimal 200 euro atau sekira Rp3,5 juta.

Sanksi ini berlaku bagi siapa saja yang keluar rumah di masa kebijakan lockdown untuk mencegah penularan Corona Covid-19. Secara terbatas dengan pengawasan ketat, warga hanya boleh keluar untuk berbelanja kebutuhan konsumsi di pasar, ke bank, apotik, atau membawa jalan hewan peliharaannya di jaling terdekat.

Di tempat studinya ini ada sekira 35 warga negara Indonesia. Kedutaan Besar Indonesia dan Konsulat Jenderalnya, aktif memperhatikan dengan rajin memantau dengan telepon menanyakan keadaan kesehatan warganya.

“Alhamdulillah dari kedutaan sangat perhatian, kami setiap hari dihubungi via telepon. Jika ada sesuatu yang darurat pasti dibantu,” jelas Pevita

Selama isolasi ketat ini sama seperti perkuliahan di Indonesia, pelajaran pun diubah menjadi sistem online. Namun dengan konsekuensi pekerjaan rumah banyak. Awal-awalnya pelajar sempat panik dengan tugas, tapi selanjutnya mulai sadar dan menyesuaikan diri bahwa lockdown ini untuk menjaga kesehatan.

Di pasar pun, cara belanja diatur rapi, masuk ke dalam pasar secara bergantian, antri dengan jaga jarak dengan orang per orang dua meter. Jika ada tampak orang berkerumun adalah di luar pasar oleh orang yang menantikan giliran berbelanja.

Pevita, mahasiswi yang sedang belajar seni musik klasik ini mengatakan, karena jumlah korban akibat Corona cukup tinggi, maka Pemerintah Spanyol pun sedang menyiasati penanganan medis kepada kemungkinan banyaknya orang yang terjangkit Covid-19. Sedang tenaga medis masih dalam rasio memadai.

“Di Spanyol tiap pukul 19:00 sampai 20:00 malam waktu setempat, ada tradisi tepuk tangan dari warga sebagai dukungan sebagai tanda hormat untuk para medis.

Sang ayah, Pradi Supriatna pun akui khawatir dengan kondisi anak kembar ketiganya ini jauh.

“Orangtua pasti khawatir, tapi saya yakin pemerintah dan warga di sana baik. Dan saya selalu berdoa kepada Allah semoga dia sehat. Juga kepada kita semua sehat,” harap Pradi.

Spanyol merupakan di antara negara Eropa dengan angka tertinggi kasus Covid-19. Jumlah kasus yang meninggal dunia akibat Covid-19 setelah Italia dan China. Setelah kacaunya pandemi Covid-19 di Italia, seluruh Eropa semakin waspada dan disiplin mencegah penyakit ganas ini. Di Italia, ketika pemerintah menerapkan liburan nasional, warga banyak yang menggunakannya untuk berpesta, ke bar, ataupun ke pantai sehingga penyebaran covid-menjadi lebih masif. (HIRA)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *