oleh

Korupsi Itu Cuma Satu Cara Menikmati Rizki Tuhan

Iklan Asia Mas Tour and Travel

TribunAsia.com

Oleh : Mang Udin

Pintu rizki itu banyak. Alam Raya begitu luas. Di setiap sudutnya ada rizki. Tuhan sudah menyiapkannya. Perlu kemauan dan sedikit kecerdasan untuk mendapatkannya. Sebab, banyak persaingan.

Di hutan ada peluang pertanian dan tambang. Di situ para pemodal bersaing. Di ekspor-impor juga ada sumber rizki yang berlimpah. Apalagi di BUMN, seperti Jiwasraya dan Asabri, Tuhan taruh rizki yang luar biasa besar di sana. Juga di KPU, ada banyak uang.

Siapa yang dekat penguasa, lokal maupun nasional, lebih berpeluang. Supaya dekat, mudah! Ongkosi mereka saat pemilu. Mereka jadi, loh bisa panen. Gak jadi? Anggap aja gagal panen. Biasa, bisnis juga kadang ada ruginya.

Agar tahu calon yang bakal menang, bikin survei. Lembaga-lembaga survei biasa dapat order dari para pengusaha. Untuk apa? Mencari calon pemenang pilkada dan pilpres.

Jangan lupa, urusan bisnis bukan hanya beli lahan dan pelihara preman di lapangan. Tapi juga harus belanja undang-undang (UU) dan kebijakan. Toko UU di DPR. Toko kebijakan di presiden atau kepala daerah. Masukkan belanja itu sebagai modal investasi.

Sebelum belanja UU, harus belanja orang dulu. Lagi-lagi pakai survei. Siapa aja calon anggota DPR yang bakal jadi. Biasanya, incumbent itu prioritas. Modali 10-15 M untuk nyaleg. Besar sekali? Kalau mau dapat besar, modalnya harus besar. Kalau mau modal kecil, jualan cendol atau bakso keliling.

Kenapa modal nyalon DPR besar? Karena banyak yang harus disedekahi. Mulai dari timses, ormas dan pemilih. Perlu juga siapin sedekah untuk petugas pemilu. Buat apa? Buat jaga suara. Kalau suara loh kurang, bisa juga belanja suara. Kalau ketahuan? Itu nasib! Yang apes itu cuma satu dari puluhan ribu orang. Maka, jangan takut. Mau kaya kok takut.

Modal besar, ya hasil juga harus besar. Loh nyaleg habis 10 miliar. Lima tahun dapat penghasilan di bawah 10 miliar. Loh mau? Kagak! Orang waras gak bakal ada yang mau.

Kalau gaji gak sampai segitu, gimana dong? Belajar sama orang-orang yang sudah banyak pengalaman. Orang-orang yang namanya sudah disebut di persidangan kasus E-KTP itu pasti sangat berpengalaman. Loh bisa belajar gimana cari duit banyak. Dan loh juga bisa belajar gimana supaya selamat.

Cara mudah untuk selamat itu simpel. Dekat dengan penguasa atau partai penguasa. Seandainya apes, KPK usil, tetap aman. Mau disebut berapa kali nama loh di persidangan, gak ngaruh. Tetap selamat. Loh masih bisa jadi gubernur. Loh masih bisa jadi menteri. Loh masih bisa duduk di DPR. Loh masih bisa tetap menjabat di partai. Kalau ada aparat macem-macem, mau geledah segala, tutup pintu gerbang. Pasang security di situ. Gak bakal berani. Besok tinggal bilang ke media: petugas KPK gak bawa surat. Beres! Masih ngotot, loh laporan ke Dewan Pengawas (Dewas) . UU No 29/2019 bisa loh pakai. Jangan lupa, kasih tahu dulu orang yang bisa pengaruhi Dewas

Kalau loh deket penguasa atau partai penguasa, gampang cari modal. Para pemodal, besar maupun kecil,skala bisnisnya, suka orang seperti loh. Loh tinggal sebut angka, cair!

Kalau pingin namanya agak kerenan dikit, biar tetap kelihatan intelek, main di survei aja. Order gak akan putus. Di Indonesia pemilunya banyak. Itu artinya, pasar gak pernah sepi. Loh tetap dianggap intelek, tapi duit banyak. Dari pada cuma jadi dosen. Nyicil Avansa aja ngos-ngosan. Gak berani ngimpi punya Alphard atau rumah di lokasi strategis. Kalau yang loh survei jadi presiden, loh bisa jadi komisaris. Apalagi kalau komisarisnya di Inalum. Wuih, gaji loh gede bro.

Ini namanya kerja keras dan usaha cerdas. Tidak hanya tahu di sudut mana rizki Tuhan itu berada, tapi juga tahu cara untuk mendapatkan rizki itu. Gak ada yang ujug-ujug. Gak ada yang instan. Ada proses panjang.

Ada orang menyebut itu kolusi. Kalau ada kolusi, biasanya ada korupsi. Soal istilah, siapa aja bisa buat bro. Mau-mau dia. Tapi itu gak penting buat loh. Yang biasa ngomong kolusi dan korupsi itu biasanya karena gak pernah dapat bagian. Sekali diberi kesempatan, gak akan ngomong lagi. Meski dulu pernah dipenjara di zaman Orba atas nama idealismenya. Tapi kalau diberi kesempatan, ternyata dekat dengan penguasa itu nikmat. Dari pada jadi ustaz kampung, lebih baik jadi ustaz istana. Rizki Tuhan terbuka.

Bro, bukannya hasil korupsi itu juga rizki dari Tuhan? Hanya beda cara dan penyebutan istilah saja.

Jakarta, 16 Januari 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *